Peran Santri...


Peran Santri dalam Menyebar Dakwah, Membangun Negeri, dan Menggapai Ridlo Ilahi
Oleh: M. Fahmi

Saat bumi, tak lagi mampu menampung kekafiran dari rimba yang bergema
Siang dan malam, memang telah menjadi kelam bagi sebagian besar manusia
Kala lautan manusia berselimut dosa, mengobral sensasi di depan khalayak
Langit menjadi saksi bisu, atas kebohongan di setiap untai gerak manusia
Dosa terus melekat, biarpun tanpa taubat
Maksiat terus saja mengalir, biarpun tak selaras dzikir
Siapakah kini, yang berani memungut puing-puing hikmah yang terserak, kalau bukan seorang Santri?
Siapakah kini, yang berani menghidupkan kembali kebenaran-kebenaran di antara kefasikan yang berhamburan di muka bumi, kalau bukan seorang Santri?
Berharap di setiap gerak langkah mewujud bijak
Berharap kuncup iman, lahir mekar sempurna
Namun, di zaman ini, bijak masih juga berjarak,
Sempurna rasa masih sebatas impian
Kemunafikan masih saja tenggelam di dalam diri manusia
Kapankah rintik hujan berubah menjadi gelombang insyaf?
di sini, saat ini, kalam Allah menampar diri

Ilahi, ke manakah kami harus berlari, saat bumi-Mu telah sesak oleh kemungkaran?
Ataukah memang saat ini kami sedang menuju akhiruzzaman?
Ilahi, biarlah kami genggam erat-erat firman-Mu
Kami bawa berlari, berlari, dan berlari..
Betapa pun, di sini kami selalu berharap
Engkau masih setia menunggu, di ujung waktu
Sebab, hanya kepada-Mu lah kami bersandar

***
Saat waktu, tak lagi mampu bicara tentang harap para rakyat di tanah air,
Negeri yang telah kehilangan kejujuran, masihkah kita pura-pura tak mengerti?
Lalu, menaruhnya di atas keniscayaan?
Ah, iya, memang mungkin sudah masanya, memang mungkin sudah zamannya
Para pemimpin negeri melupakan kebenaran, tak lagi peduli peduli kepada kebenaran
Kebenaran seakan menjadi boneka lucu yang layak ditertawakan
Wahai Santri, lihatlah, di ufuk cakrawala sana, sayup-sayup suara memanggil, terdengar jelas kebenaran yang membisik,

Bila Santri zaman dahulu mampu membangun kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya, kenapa sekarang tidak?
Kala para penjajah negeri terlelap di atas kursi kesewenang-wenangan
Para Santri bangun di sepertiga malam terakhir, mereka dirikan shalat, mereka wiridkan dzikir, lalu mereka rancang strategi bersama atas nama keadilan dan kebenaran
Ketahuilah, bahwa negeri kita sekarang ini sebenarnya masih terjajah;
Terjajah oleh kepentingan-kepentingan, terjajah oleh ketidakadilan, oleh kemaksiatan, oleh dosa, oleh kesewenang-wenangan, oleh kerakusan, oleh kemunafikan, oleh kedustaan,
Terjajah oleh nafsu dan materi, terjajah oleh para penjajah yang ternyata lahir dari bangsa sendiri:
Bangsa yang terlalu lama tertidur, hingga melupakan kebenaran-kebenaran
Lihatlah, betapa kebenaran kini telah lama mati bersama matinya hati nurani
Maka hari ini, di hari Santri ini, telah sepatutnya para Santri bangun dan bergerak
Berani dengan lantang dan teguh, menegakkan kembali kebenaran
Dengan dakwah, dengan syi'ar, dengan amal, dengan prinsip dan keyakinan
Perangilah segala kemaksiatan dengan kebenaran
Percayalah, bahwa kebenaran kelak akan muncul sebagai pemenang, meski datangnya kadang belakangan

Santri, betapa besar jiwamu, betapa mulia pengabdianmu, betapa agung perjuanganmu
Kau bangun negeri beserta manusianya dengan semangat dan gelora
Janganlah engkau takut menghadapi kemungkaran di atas muka bumi
Ingatlah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan selalu bersama langkahmu
Bersama langkah perjuanganmu, menuju ridlo Allah."

Malang, 3 Oktober 2017