Melihat Kebaikan dalam Segala Hal


Melihat Kebaikan dalam Segala Hal*)
Oleh: M. Fahmi

*) Diterbitkan juga di buletin Al-Anwar PP. Anwarul Huda Malang: https://ppanwarulhuda.com/buletin-al-anwar/melihat-kebaikan-dalam-segala-hal/

~Tidak untuk dipercaya. Bukan nasihat. Cuma endapan proses belajar. Bisa jadi benar. Bisa jadi salah. Wallahu a'lam.~

[Pagi ini. Semesta masih bertasbih dengan bias birunya. Fajar yang purnama, betapa gagah menjemput segala pagi. Semburat fajar menjadi saksi perjalanan setiap manusia. Pagi-pagi begini, ada manusia yang berjalan kepada kebahagiaan. Ada pula yang berjalan kepada kebencian. Ah. Sepertinya, soal rasa, telah menjadi penyakit lama manusia. Belum juga tibakah saatnya manusia mengetahui, bahwa senyum dan do’a di pagi hari akan menentukan cuaca hari ini?

Ketahuilah. Angin, selamanya tak akan pernah tidur. Ia akan terus berhembus ke mana ia suka. Ialah yang pagi-pagi membelai setiap helai rambut di ubun-ubun manusia. Jelas saja, setiap manusia mempunyai hak sendiri-sendiri, untuk memilih isi ubun-ubunnya. Sehingga, menjadilah manusia itu sebagaimana ia menjadi. Angin pula yang tahu, apakah ubun-ubun manusia itu berisi embun ataukah api.]

Sadarilah, bahwa yang menciptakan kegelapan hanyalah prasangka demi prasangka buruk. Yang membuat segalanya menjadi gelap adalah diri kami sendiri. Pun, yang melahirkan cahaya sesungguhnya datang dari kami sendiri. Kehidupan zaman sekarang ini, tak seburuk yang kami sangka. Sebab kami bukanlah Tuhan, dan semua bukanlah urusan kami yang pada akhirnya membuat kami pusing. 

Kepada mereka yang hidupnya terseok-seok dan ragu tepat di persimpangan jalan. Kepada mereka yang selalu menolak taburan cahaya. Kepada mereka yang senantiasa menjauh dari rel kebenaran. Kepada mereka yang membuat mata kami perih. Mereka yang membuat telinga kami panas. Kepada mereka yang tak mengenal agama. Yang melakukan kerusakan. Yang melakukan kemungkaran. Yang menindas kami. Yang melecehkan agama kami. Yang semena-mena mencela kami. Kami tak perlu merisaukan mereka. Kami harus selalu berbaik sangka. Jangan sampai berburuk sangka menjadi kebiasaan yang menjamuri pikiran kami. Bahaya...! Bisa-bisa kalau sudah akut, nanti menjadi tumor ganas yang mengganggu sistem kerja otak kami. Kami harusnya selalu bergembira dan menerima dengan bahagia atas segala rencana-Nya. Menikmati segala yang datang kepada diri kami. Ketahuilah, bahwa emosi dan menyimpan dendam pun tidak baik buat kesehatan jiwa kami. Bukan berarti kami tidak peka terhadap kebenaran ataupun kemungkaran, bahkan dengan cara begini, kami akan bisa belajar untuk lebih waspada dan peka kembali, kepada apa yang telah, sedang, dan akan terjadi di dalam diri kami sendiri. Buang saja puisi-puisi kami yang bernada mengutuk keadaan. Yang berlagu menyombongkan diri. Yang berirama membesarkan diri. Yang bersyair merendahkan sesama. Malah sebaiknya, kami harus waspada kepada diri kami sendiri, kepada prasangka-prasangka kami sendiri. Atau jangan-jangan, kami tak pernah gelisah dan risau kepada diri kami sendiri.

Sebagai catatan awal, kalau semisal ada yang mengatakan kami adalah orang keren, hebat, pandai, kaya, alim, ataupun berasal dari keluarga raja, maka percayalah, bahwa itu semua hanyalah berita bohong belaka. Orang yang mengatakan seperti itu, kami pikir sangatlah berlebihan. Dan sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Mereka mungkin salah terka. Bahwa kami sesungguhnyalah cuma orang biasa, berasal dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, juga berperilaku biasa, bahwa kami hanyalah manusia yang sangat-sangat biasa—tak suka sama sekali dengan yang namanya pujian.

Melihat kebaikan dalam segala hal ini erat kaitannya dengan akhlak. Akhlak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia; merupakan hal yang paling penting dan menjadi tanda bahwa seseorang itu layak disebut sebagai manusia. Akhlak merupakan satu-satunya jalan yang dapat menghubungkan para penempuh jalan agar sampai kepada tempat yang menjadi tujuan sejati. Sepandai atau sebanyak apapun ilmu seseorang bila tidak memiliki akhlak, ia tidak akan pernah menemui apa sebetulnya yang ia cari di muka bumi ini. Hanya hampa yang ia jumpai, hari demi hari. Hatinya telah membeku, sebab ia menolak kehadiran nurani.

Betapapun kami, setidaknya tidak merasa lebih baik dari siapa pun yang pernah kami jumpai. Andaikan saja, kami bertemu dengan seseorang yang umurnya lebih muda daripada kami. Maka sikap atau lebih tepatnya pemikiran yang harus kami bangun dalam pikiran adalah bahwa, seburuk apapun ia pada kenyataannya tetap lebih buruk kami dari orang itu, sebab dosa yang ia perbuat masih lebih sedikit daripada tumpukan dosa yang sengaja kami simpan waktu demi waktu di sebuah lemari besar yang tak tersebutkan namanya. Atau, kalau saja kami bertemu dengan orang yang lebih tua umurnya dari kami, maka pada rasionalisasinya ia tetap lebih baik daripada kami, sebab ia telah lebih dahulu beramal, dan amalnya sudah dapat dipastikan lebih banyak daripada kami. Kalau kami bertemu dengan orang kafir, maka pemikiran yang dibangun adalah bahwa suatu saat ia bisa beriman, sehingga ia bertaubat kemudian diampunilah segala dosa-dosanya, persis seperti ketika bayi yang baru lahir. Pun tak bisa dipastikan bahwa selamanya kami akan beriman hingga akhir hayat. Begitulah, secara terus-menerus konsep itu kami tanamkan dalam pikiran, maka setidaknya kami telah berusaha untuk mengubur dalam-dalam kesombongan yang ada dalam diri. Merasa tidak lebih baik dari orang lain ini sebenarnya tidak hanya mencakup aspek amaliah saja, namun juga bersifat lebih komprehensif lagi.

Berburuk sangka akan berdampak pada munculnya rasa sombong, karena telah melihat keburukan orang lain sehingga menjadi lebih benar dari yang lain. Dalam suatu hadis disebutkan, tidaklah masuk Surga manusia yang di dalam hatinya terdapat sebiji (dzarroh) rasa sombong. Kami sering kali sebagai manusia yang statusnya adalah sebagai penguasa di tanah bumi, merasa sombong atau sengaja memunculkan ke-Aku-an dan ke-Ego-an yang sebetulnya hanyalah hak mutlak Tuhan. Betapa pun, “aku” dan “ego” adalah bagian dari diri manusia, tapi setidaknya kami berusaha untuk tidak membiarkannya menjadi liar. Malahan, sebuah penelitian kesehatan membuktikan, bahwa rasa amatlah berpengaruh kepada setiap datangnya penyakit. Bahwa penyakit itu datang bersamaan dengan kondisi jiwa yang rapuh, sedih, tidak senang, dan yang lebih banyak lagi, penyakit datang sebab sombong dan berburuk sangka. Hidup kok cuma dibuat untuk menganalisis keburukan setiap orang lain. Sehingga satu demi satu dari setiap orang tak pernah lepas dari pengamatan.

Mari, kita eja dengan hati yang merdeka, satu demi satu pernyataan yang kami kutip. Firman-Nya dalam QS. Al-Hujurat: 12, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” Di dalam QS. Al-Baqarah: 216 pun dijelaskan, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Atau tentang pesan Rasulullah, bahwa “Apabila seseorang mengkafirkan saudara sesamanya, maka pengkafiran itu pasti menimpa kepada salah satunya. Jika yang dikafirkan itu memang kafir, maka ia kafir. Jika yang dikafirkan tidak kafir, maka kekafiran itu menimpa kepada orang yang mengkafirkan.” HR. Imam Muslim. Juga, ungkapan Aa Gym dalam salah satu syairnya, “Jagalah hati, jangan kau kotori... Jagalah hati, cahaya Ilahi.”

Pun kami jadi teringat kata mutiara Gus Mus di dalam salah satu cerpennya yang berjudul “Gus Ja’far”. Begini kira-kira, “Sebagai Kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke Surga kelak? Atau, apakah kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang sarat kemungkaran, yang kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu? Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabur, ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak.”

Kenyataan mengenai perbedaan kebenaran dan kesalahan bisa dibilang begitu tipis. Keduanya berdekatan, sebab manusia sepenuhnya tak punya wewenang sedikit pun untuk menjustifikasi kebenaran atau kesalahan. Siapa yang tahu kondisi hati, kecuali hanya Yang Menjadikan hati itu sendiri. Maka siapapun kami yang masih dalam tahapan syari’at, pastilah tak pernah mengetahui dengan persis dalam suatu peristiwa, mana yang sebetulnya benar dan mana yang salah. Namun, betapapun demikian. Allah telah memberi secercah petunjuk cahaya lewat Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau lewat kalam para ulama’, sehingga langkah kami di sepanjang perjalanan kami tidak begitu gelap. Dengan lentera Al-Qur’an dan As-Sunnah kami dapat berjalan di tengah kegelapan sekalipun. Betapa, kegelapan telah menutup hampir seluruh permukaan jalan bumi di zaman akhir ini. Tak ayal, hati manusia pun ikut tertutup oleh karena keadaan yang bermacam-macam sebab dan datangnya. Kami, sebagai sesama manusia tidak elok jika saling berburuk sangka. Siapakah yang paling benar di antara kami. Kami tidak tahu. Atau. Siapakah yang paling salah di antara kami. Kami tidak tahu. Kami mengerti, kami semua adalah saudara. Al-muslimu akhul muslim. Maka kami tak hendak berprasangka satu sama lain. Betapapun bejat tingkah kelakuan saudara kami, kami tetap menyayanginya. Kami hanya membenci perilakunya, bukan orangnya. Mari, meraba hati lagi. Sudahkah hati kami baik untuk sesama. Sudahkah kami melihat, bahwa mesti akan selalu ada kebaikan dalam segala hal.

Malang, 04 Maret 2016