Pengembara Sunyi


Pengembara Sunyi
Oleh: M. Fahmi

Sudah lama lelaki itu mencari kekasihnya. Kekasih yang dulu pernah hadir di kehidupannya, namun kini entah ke mana. Dicarinya kekasih itu sepanjang siang dan malam, sepanjang waktu, dan sepanjang ruang, namun tidak kunjung juga ia menemukan kekasih yang dicarinya itu. Dicarinya kekasih itu dalam pengembaraan yang tak ada hingga, hingga berabad-abad lamanya, hingga pengembaraan itu serasa tidak ada titik akhirnya. Setiap orang yang dijumpainya di jalan selalu ia tanya, di mana kekasihnya itu berada. Orang-orang yang dijumpainya itu bukan menjawab semestinya, malah menganggapnya gila.

Pernah suatu ketika ia mampir ke sebuah toko, lalu bertanya kepada pelayan toko.

“Kekasih…?” Pelayan toko itu mengernyitkan keningnya. Ditatapnya wajah lelaki itu penuh keheranan.

“Betul, apakah dia ada di sini?”
Pelayan itu agak lama menatap wajah lelaki itu. Wajahnya penuh tanda tanya, lalu entah mengapa tiba-tiba pelayan toko itu tertawa.

“Mengapa engkau tertawa?” Ia terheran-heran.

“Dasar orang gila!” Umpat penjual toko itu.

Betapa malunya ia. Dengan perasaan kesal, ditinggalkannya toko itu. Ia heran. Mengapa orang-orang selalu tertawa setiap kali ia bertaya tentang kekasih? Mengapa mereka menganggapnya tak waras? Apakah pertanyaannya aneh? Ataukah kekasih itu sekarang telah menjadi barang langka sehingga orang-orang tak lagi mengenalnya? Ataukah ia telah berubah menjadi makhluk lucu hingga seseorang mau tidak mau, harus tertawa begitu ia menyebutkan namanya? Entahlah.
Lelaki itu melanjutkan perjalanannya. Menyusuri sungai, pematang sawah, bukit, lembah, dan sampailah ia di suatu pedesaan. Ia bertemu dengan seorang kakek tua. Kakek tua itu menanyakan tujuannya. Lelaki itu menerangkan maksudnya. Lalu dengan lugu, kakek tua itu mempertemukannya dengan seorang perawan desa yang benar-benar ayu.

“Bagaimana? Engkau cocok?” Tanya kakek itu.

“Bukan. Bukan itu, Kek. Bukan perawan desa yang sedang aku cari. Aku sedang mencari kekasih. Kekasih bukan sembarang kekasih, melainkan kekasih sejati yang kini entah berada di mana. Kekasih sejati adalah cinta yang tak akan lekang ditelan masa. Dialah pemilik kebenaran dan cinta abadi yang sesungguhnya. Padahal, dulu Dia pernah hadir di hadapan kita penuh kasih dan sayang, tapi mengapa orang-orang sekarang sudah melupakanNya? Apakah Kakek juga tak mengingatnya lagi?"

Kakek tua itu menatapnya tajam. Kepolosan di wajahnya seketika itu menghilang, lalu ditinggalkan lelaki itu tanpa kata. Lelaki itu agak kebingungan. Ternyata kakek tua itu juga tidak mengerti dan mengenal kekasih yang dimaksudkannya.

Ia tak pernah patah semangat. Diteruskan langkahnya yang patah-patah itu. Di setiap perjalanan banyak peristiwa yang terekam dalam benaknya. Pada setiap persimpangan jalan, selalu ia temukan misteri yang tidak sejiwa dengan semangatnya, misteri yang tidak mampu diterima oleh nuraninya. Dan anehnya, ia belum kunjung mengerti juga. Ia atau mereka yang benar. Ia atau mereka yang salah. Ia atau mereka yang munafik. Pencurian, penghianatan, kekejaman, kebohongan, dan kemunafikan seakan telah menjadi nafas kehidupan, hingga banyak orang yang melupakan atau bahkan tidak mengenal kekasih.

Ah, sudah sampai peradaban manakah aku ini, hingga tak satupun dari mereka yang mengenal kekasih? Gumamnya di sela-sela langkahnya.
Di sepanjang perjalanan tidak sedikit orang yang mengejeknya.

“Lihat, dia bertanya tentang kekasih, padahal dia punya mata, punya mulut, kaki, tangan, dan telinga. Apakah tidak digunakan bekal kemanusiaannya?” Demikian kata seseorang yang ia temui di pinggir jalan.

“Kasihan benar orang itu. Dicarinya kekasih itu sepanjang malam dan ia lupa jika hari telah kembali pagi.” Kata yang lainnya.

“Semoga ia cepat sembuh.”

“Semoga ia cepat mengingat kembali jati dirinya.”

“Atau jangan-jangan dia sudah gila!”

“Ya, menggilai kekasih yang sudah tak sabar lagi untuk dicumbunya!”

“Hahaha…!”
“Kasihan…”

Dan bebagai umpatan lain yang ia dapatkan. Namun ia tetap tegar. Buat apa sakit hati kalau ia memang tak mempunyai hak untuk merasa sakit karenanya? Bukankah orang yang sedang mencari kekasih tidak boleh menyimpan sedikitpun rasa sakit di dalam hati? Apalagi rasa benci, iri, dan dusta. Ya, dalam hatinya tidak boleh menyimpan sedikitpun dendam. Semua rasa mesti ia curahkan hanya untuk perasaan cinta. Mencinta dan merindui kekasih sejati yang hingga kini belum juga ia temukan.

Ia tetap melangkah. Melewati jalan setapak, menyeberangi sungai-sungai kecil, menerobos pematang sawah, kebun-kebun, menyusuri berbagai jalan, dan sampailah ia di suatu kota. Lelaki itu benar-benar merasa asing di kota itu. Ia seperti berada di sebuah peradaban Antah Berantah. Atau, kota itu sendirikah yang tampak asing di matanya? Entahlah. Tak satu orang pun yang ia kenal di sana. Celakanya, tak satu orang pula yang mau mengenalinya.

Lelaki itu mengitari kota. Debu-debu beterbangan di sana-sini. Berbagai suara terdengar di telinga. Radio dan televisi pun tidak henti-hentinya menyiarkan berita perang dan bencana. Dunia telah berubah menjadi gaduh.

Di sebuah halte, lelaki itu bertanya pada seorang pria berdasi yang sedang menunggu taksi.

“Maaf, Tuan. Apakah Tuan mengerti di mana kekasihku berada?”

Pria berdasi itu membeliakkan matanya. Ditatapnya lelaki itu lekat-lekat.

“Bung, ini kota! Di sini yang bicara uang. Bekerjalah dan cari uang sebanyak-banyaknya. Nanti kau akan dapat membeli seribu kekasih yang kau inginkan!!” Teriak pria berdasi itu.

“Tetapi, kekasihku tak bisa dibeli, Tuan. Tak mungkin ia mengobral cinta.” Ujarnya.

Pria berdasi itu semakin garang. Dipandangnya lelaki itu penuh kejengkelan.

“Aku tak punya waktu untuk romantis-romantisan, Bung! Apalagi bicara soal cinta. Bagiku waktu adalah uang! Kau mengerti?” Pria berdasi itu pun berlari ke mobil taksi. Langkahnya terburu-buru, membuat lelaki itu berdiri termangu.

Ah, soal cinta pun mereka tak lagi punya waktu. Gumamnya dalam hati.

Gedung-gedung pencakar langit, tembok-tembok beton, berbagai instalasi listrik, dan aspal-aspal yang menutup hampir seluruh permukaan kota itu seoalah menutup hati mereka, hingga mereka tak lagi mengenal kekasih. Ataukah kekasih itu sudah mati sehingga tak perlu lagi dikenal?

Orang-orang di kota itu sibuk dengan urusannya masing-masing. Jangankan yang bekerja di gedung-gedung, di mal-mal, atau di pabrik-pabrik, yang di pinggir jalan pun mereka enggan bertegur sapa. Mereka selalu begegas, berpacu dengan waktu, seolah khawatir matahari esok tidak akan terbit lagi.

Kala itu, lelaki itu hampir saja putus asa dan memilih untuk mengakhiri langkahnya. Namun, di suatu malam yang teramat malam itu ada bocah kecil bermata buta yang menyapanya.

“Hai, Kak. Apakah Kakak sedang mencari kekasih?”

Lelaki itu kagum bukan main. Bagaimana mungkin, bocah yang buta dapat melihat dan mengerti apa yang ia cari.

“Betul, saya sedang mencari seorang kekasih. Apakah engkau mengenalnya?”

“Oh. Sebenarnya kekasih yang Kakak cari itu tidak ke mana-mana. Ia akan tetap Ada, menyertai Kakak di mana pun berada.  Saya bisa merasakan kehadiran kekasih itu setiap saat.”

“Oh, ya? Benarkah?” Lelaki itu nampak agak kebingungan.

“Benark, Kak. Oh, iya. Ada hal yang belum pernah saya katakan kepada siapapun. Orang-orang mengira saya ini bocah buta, namun berkat kehadiran kekasih itu saya dapat melihat dan merasa tanpa mata. Bahkan semuanya serasa lebih jelas dari penglihatan mata itu sendiri.”

“Bagaimana bisa?!”

“Lihat, ada seekor semut yang akan menggigit punggung Kakak!”

Lelaki itu mencari semut yang dikatakan bocah itu. Dan benar. Ada seekor semut yang merayap di punggungnya. Ia mencoba menangkapnya, namun sayang, semut itu berhasil menggigit penggung lelaki itu lebih dulu. Lelaki itu semakin linglung,  merasa bodoh, dan tak mengerti kata-kata bocah itu.

“Kakak tak perlu bingung, saya akan mengantarkan Kakak menuju apa yang selama ini Kakak cari.” Tegas bocah itu.

“Be-be-be-nar-kah?” Dengan suara terbata-bata dan perasaan gembira yang tiada tara lelaki itu berkata.

“Mari ikuti saya, Kak!”

Akhirnya lelaki itu mengikuti bocah itu. Bocah itu terus berjalan mengikuti aliran ruang dan waktu. Dan di sebuah tempat bocah itu berhenti.

“Kak, wudhulah dan sholatlah di surau yang sudah tua ini. Nanti Kakak akan menemukan kekasih yang selama ini Kakak cari.” Kata bocah itu mantap sambil menunjuk sebuah surau yang sudah sangat tua. Sepertinya orang-orang sekitar sudah tidak pernah lagi mengunjunginya atau mungkin sudah melupakannya, hingga nampak tidak terawat dan usang.

Lelaki itu sempat merasakan kedamaian yang tidak ada hingga ketika melihat surau yang termakan usia itu. Ia seperti menemukan kerinduan yang telah lama hilang dan kini ia seperti sedang mendekati kerinduan itu. Ia seperti teringat kata-kata kakeknya, “kalau engkau ingin menemuiNya, rajin-rajinlah mengunjungiNya dalam sujud, lalu dengan tengadah tanganmu ke langit, supaya Dia mau membukakan pintu langit dan mempertemukanmu denganNya.” Belum sempat lelaki itu mengucapkan terimakasih, bocah bermata buta itu sudah tidak ada di sampingnya. Lelaki itu terus mencari di sekelilingnya, namun tetap tidak ada.

Kini ia mengerti, bahwa bocah bermata buta itu bukan sembarang bocah. Lelaki itu melangkah perlahan mendekati surau itu. Seperti ada yang mengalir membasahi jiwanya yang telah lama kering.

Lelaki itu pun bersujud panjang di surau itu. Entah apa yang membuat tubuhnya terasa teramat ringan diterpa angin. Ia serasa melayang, terbang menembus awan menuju puncak tertinggi alam semesta dan menemui kekasihnya yang sejati. Ia kini telah menjadi pengembara sunyi, pengembara abadi yang benar-benar abadi.

Malang, 22 Maret 2014