Judulnya Lupa


Judulnya Lupa
Oleh: M. Fahmi

Lihatlah,
masa kini begitu indah, bukan?
Tapi ingatkah,
bahwa kita sedang terlupa?

Mungkin, kita terlalu lama tenggelam
di masa yang kini
hingga lupa
bagaimana harus merangkak naik
menuju keutuhan yang sempurna: tempat paling tinggi

Mungkin, kita terlalu asyik bermain-main
di masa yang kini
hingga lupa
pada kenangan-kenangan purba
yang menuntun kita, di sepanjang perjalanan

Mungkin, kita terlalu terlena
pada zaman yang kini
hingga lupa
bagamana dahulu
dengan tabah Sang Guru mengajarkan
pesan demi pesan rahasia Kehidupan

Mungkin, kita terlalu terbuai
di zaman yang tak punya hati
hingga lupa
pada segala yang diajarkan Kehidupan

Mungkin, kita terlalu jauh pergi
di peradaban yang entah mana
hingga lupa
bagaimana cara pulang
ke rumah, yang dahulu telah kita rajut

Mungkin, kita terlalu serakah melangkah
hingga lupa
bagamana cara menginjak bumi yang benar

Mungkin, kita terlalu munafik melihat
hingga lupa
bagaimana cara menatap langit yang jujur

Mungkin, kita terlalu sibuk
Mengatur seluruh isi bumi: rumah mimpi
hingga lupa
pada pagi—yang bernama ajal—
yang pasti datang.
Lalu Ia mengirim firman,
“...ketika engkau Kubangunkan esok pagi,
sapalah Aku
dengan sebaris puisi...”

Itulah sebabnya,
kutulis “sebaris” puisi ini.
Barangkali
—atau mungkin,—
ini hanyalah puisi tentang lupa
yang mengingatkan

Mari kita mengingat kembali.

Mungkin, kita terlalu keterlaluan
hingga terlalu
kurang waspada
pada segala waktu

Mungkin, kita terlalu buta
hingga ayat-ayatNya
tak mampu kita baca

Mungkin, kita terlalu tuli
hingga firmanNya
tak lagi kita dengar

Mungkin, karena hilang ingatan
kita melupakan segalanya
tentang bagaimana cara
menyapaNya
dengan cinta yang setara dengan cintaNya

Apakah kita memandang
bahwa kita telah gila?
yang hanya sekadar mempersoalkan
tentang lupa atau ingat,
bahwa kita terlalu berat menafsir
setiap detik masa
di Kehidupan?
Tidak, kita salah terka.
kita tidak sedang gila,
juga tidak sedang menggurui
dengan kata.
kita hanya sekadar memberi
kepada kita
yang membutuhkan.
dan hanya ini
yang bisa kita berikan
kepada kita yang—mungkin—sedang lupa

Mungkin, kita terlalu lupa
di masa yang lupa
hingga tak lagi dapat mengingat
bagaimana dahulu
kita senantiasa ingat, pada Yang tak pernah lupa

Mungkin, kita terlalu lalai
di sepanjang waktu
hingga lupa, lupa, dan lupa
menjamuri seluruh waktu

Sudah ingatkah kita? Ataukah masih terlalu lupa?
Atau jangan-jangan pura-pura lupa?
Cobalah ingat-ingat kembali
ingatan-ingatan itu
ke mana perginya?

Ah, barangkali
kita juga lupa judulnya
ataukah memang judulnya lupa?
Tentang lupa-lupa itu semua,
lupakan!
dan semoga
lupa hanya ada
di negeri mimpi


Malang, 05.02.2015
Em Ef