Di Rahim Asap



Di Rahim Asap
Oleh: M. Fahmi

Gejolak api tak tertahankan
Membumbungkan asap-asap hitam nan tebal
Sungguh, teramat sulit tuk menyibak
Kaburkan kebeningan cuaca
Keruhkan penglihatan diri

Sebab isi hati tak selalu sama
Pemikiran pun kadang berbeda
Manusia-manusia bergerak dinamis
Diterpa musim-cuaca tak tentu

Aku teramat asing
Berjalan menelusuri jalan yang sulit kukenal
Melewati persimpangan demi persimpangan yang membingungkan
Menyusuri lorong demi lorong berasap
Sendiri, tanpa pelita
Kemandirian teruji

Asap begitu pekat
Aku kehabisan udara, aku terhempas

Bilakah bisa kupinta angin? Agar kusibak asap-asap itu
Bilakah bisa kupinta hujan? Agar kuredam gemuruh api
Bilakah bisa kupinta cahaya? Lalu menyimpannya
Agar terang segala semua
Bilakah bisa kutemukan pijakan kaki? Dan berjalan tenang di atasnya

Mengapa asap tak pernah lelah
Mengusik ketenangan hamba
Yang mencoba berlabuh
Ke dermaga impian

Hanya dengan kekuatan hati juga iman
Angin kan menyibak asap
Hanya dengan kepekaan pikiran yang jernih lagi jeli
Hujan kan melenyapkan api
Hanya dengan ketajaman penglihatan
Cahaya kan mengusir segala keruh kabur
Hanya dengan kembali
Kutemukan pijakan kaki

Malang, Februari 2018.