“Baca pelan-pelan”



Saya menulis ensiklopedi ini karena terinspirasi dari hasil “Bahtsul masaail” Bahrul ‘Ulum se-jawa di masjid Jami’ Bahrul ‘Ulum Tambakberas, Jombang yang diadakan pada bulan Mei 2011. Walaupun hanya membahas ‘mencontek’, tapi saya dapat merekam makna yang terkandung di dalamnya. Berangkat dari kegelisahan dan kegundahan batin lalu penulis mengobatinya dengan menullis dan membagikannya pada orang lain yang membutuhkan. Baca pelan-pelan dan resapi kata demi kata, maka engkau akan merasa banyak berlumuran dosa di hadapan Allah. Engkau akan merasa hina di hadapan-Nya. Setelah membaca ini perbanyaklah membaca istighfar.

***
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan ridlo-Mu.” Kata-kata itulah yang senantiasa menyertai di setiap langkah perjalanan hidupku. Jika Allah ridlo dengan kehendak-Nya, maka akupun tak akan bisa memutuskan garis ketakdiran itu walaupun ketakdiran itu kulawan dengan semangat yang menggebu. Memang kita dituntut untuk ikhtiyar dalam menghadapi ganasnya kehidupan ini. Tapi serahkan keberhasilan itu kepada Allah.

***
Ku lewati jalan terjal berdebu. Banyak kisah yang kurekam waktu itu. Tapi mengapa di setiap perjalananku banyak kutemukan di persimpanag jalan ada ketidakjujuran, keamburadulan, kecurangan, kebohongan, kemunafikan, kepalsuan belaka? Bahkan mereka sering menggunakan persimpang jalan itu dalam perjalanan hidup mereka dengan kewajaran pemaknaan. Di manakah keadilan itu sekarang? Jarang sekali kutemukan keadilan di setiap perjalanan hidupku. Apakah kebenaran sekarang sudah menjadi barang langka?

***
Sudah puaskah engkau dengan hasil rapot semester kemarin? Sudah puaskah engkau bohongi mereka yang menyayangimu? Mencontek berarti menipu diri sendiri. Betepa tidak? Engkau tahu mana barang hak mana barang bathil, tapi mengapa kau tipu dirimu sendiri? Mencontek berarti menipu orang tua. Betapa tidak? Mereka menganggap bahwa itu adalah hasil dari selama ini kamu belajar. Tapi apa? Kau bohongi mereka!!! Tak kasihankah engkau pada mereka yang telah melahirkanmu, membesarkanmu, mengajarimu untuk bebuat jujur, tapi malah engkau tipu mereka. Itukah balas budimu pada mereka? Mencontek berarti menipu guru. Mereka menganggap engkaulah yang terbaik. Tapi engkau siasati mereka. Mencontek berarti menipu orang lain. Mereka semua telah tertipu. Engkaulah penyebabnya!!!! Sia-sia belajarmu selama 6 bulan yang kau akhiri dengan mencontek. Tak ada artinya!!! Bahkan malaikat yang telah susah payah mencatat amal belajarmu itu, lalu tiba-tiba ia coret-cotret / silang dengan tinta merah gara-gara hanya mencontek saat ujian. Sia-sia amal belajarmu!!! Hanya akan menjadi bekas yang tak layak dijual. Bahkan ketika engkau disodorkan sebuah kunci jawaban oleh seorang temanmu, itu sebenarnya idealismemu sedang di uji. Seberapa tegar engkau melawan hawa nafsu bergejolak. Seberapa setiakah engkau memenuhi hak-hak Allah. Jika engkau menerima kunci jawaban itu berarti engkau telah mengubur landasan keimanan yang sudah kau bangun sejak kecil. Bahkan banyak ‘ulama’ yang mengatakan tidak akan manfaat ilmunya. Bahkan rizki yang didapat dengan cara haram, maka rizkinya akan haram. Lalu bagaimana rizki yang di dapat dari PNS yang dalam tes mencontek? Bukankah mencontek itu haram? Lalu bagaiman hukum rizkinya? Entahlah bila membahas fiqih tak ada habisnya. Bahkan di setiap mata ini terbuka (tidak tidur) pasti melakukan ma’siat. Astaghfirulaahal’adziim,,,,,, Banyaklah beristighfar, agar kita mendapat ampunan-Nya. 

Allah telah memberikan semuanya untuk kita, tetapi mata hati kita tidak dapat melihat Allah, berarti mata hati kita buta. Sebaliknya, orang yang telah dibuka mata hatinya, ia akan merasa malu apabila melakuakan hal-hal yang tidak disukai Allah, karena ia merasa selalu diawasi Allah.

***
Sadarlah sobat,,, memang berpegang teguh pada iman, islam, ihsan, dan sunnah rasul pada zaman sekarang diibartkan seperti memegang bara api. Apabila kita telah tergoga oleh ajakan (buruk) dan larangan (baik) teman , maka berarti kita telah melepaskan bara api keimanan.
Entahlah sobat,,, melihat kehidupan dunia yang begitu ganasnya, jangan sampai engkau melepaskan bara api keimanan. Jangan sampai cintamu pada dunia membutakanmu jalan menuju Allah.

Jombang, 25 Juni 2011
M.fahmi