IBU Mila yang kami sayangi…



Bu, ini adalah surat penuh luka dari kami yang malang. Yang ditulis dengan penuh rasa malu setelah lama menimbang dan lama menunggu. Kami menahan goresan pena ini berkali-kali, air mata menghadang dan menghentikannya berkali-kali. Maka mengalunlah rintihan hati.
            Bu, setelah melewati usia yang semakin panjang ini kami telah melihat engkau adalah sesosok ‘pelita’ bagi hidup kami. Tidak hanya sekedar itu, dengan penuh kesabaran engkau bimbing kami dan mengantarkannya menuju tangga-tangga keseuksesan. Maka sudah menjadi hak kami atasmu agar membaca lembaran surat ini. Jika engkau tak berkenan silakan merobeknya setelah engkau membacanya, tapi jika tidak genggamlah catatan ‘kenangan’ ini dan simpan rapi dalam lubuk hatimu.            Bu, tahun-tahun yang lalu adalah hari yang penuh bahagia dalam hidup kami. Ketika kita masih bersama saat itu. Semua ‘catatan-catatan lembar kehidupan’ itu terekam dan pantang bergeser tempatnya dari hati kami. Kesan itu tak akan pernah hilang.
Bu, semua orang pasti mengetahui apa makna kalimat ini. Yaitu kumpulan dari kegembiraan dan kebahagiaan serta awal dari perjuangan. Perjuanganmu tidak bisa dilukiskan dengan apapun. Semua itu tidak akan mengurangi cinta kami padamu dan kegembiraan kami menyambut kehadiranmu, saat pertama kami melangkahkan kaki ke dunia jurnalistik. Bahkan rasa sayang itu terus bersemi seiring dengan bergantinya hari dan kerinduan kami terhadapmu semakin mendalam.

            Kami sudah lama memendam perasaan bahagia ini dengan kesusahan di atas kesusahan, rasa sakit di atas rasa sakit. Kami gembira dan bahagia bisa ditakdirkan untuk bertemu denganmu, walau hanya sekejap.

            Sebuah perjuangan panjang yang mendatangkan ‘fajar kebaghagiaan’ sesudah berlalunya malam panjang. Kami merasakan cemas yang tidak bisa diguratkan dengan pena dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saat itu bercampur aduklah antara air mata kebahagiaanmu dengan air mata kegembiraan kami. Hilanglah seluruh rasa sakit dan perih yang kami rasakan.

            Harapan kami setiap hari adalah melihat senyumanmu dan kebahagiaanmu setiap waktu—engkau meminta kami sesuatu agar kami lakukannya untukmu. Itulah puncak dari kebahagiaanku. 

Bu, kami tidak banyak meminta banyak kepadamu. Kami hanya memintamu menempatkan diri kami seperti halnya engkau menempatkan teman-temanmu yang paling akrab dan yang paling dekat langkahnya bagimu.

Bu, jadikanlah kami salah satu terminal hidupmu sehari-hari sehingga kami dapat melihatmu walaupun hanya sekejap.

Kini semua hanyalah kisah kenangan. Kami harap engkau masih mengingat kami di setiap gerak langkah kehidupan…


Jombang, 28 Mei 2012
By: Arjuna Putra ;

( Sudrajad, Y. P, Amin Musthofa, Anang Fajrul, M. Kholilullah, M. Dendi Abd Nashir, A. Rofiuddin, M. Rizki, M. Syukron, Wahyu Fadli,  dan  M. Fahmi )