Aku dan Rumbai Kata

Aku dan Rumbai Kata

seberapa tajam kata yang hendak mengoyakku?
pada belantara yang lebih luas,
retorika zaman yang semakin ganas
kebebasan logika pemikiran manusia
berusaha menyayat-nyayat ulu imanku
kata-kata yang entah lahir dari peradaban mana berusaha
merobohkan surauku, menghempaskan keyakinanku
berbagai ideologi terbungkus rapi,
semakin saja membutakan penglihatanku,
mendungukan telingaku, mematikan rasaku
puisi-puisi yang tak kukenal
begitu lancang menghina firman Tuhan
lalu filsafat demi filsafat semakin memandang agama
sebagai candu dan bahkan fiksi

kata, begitu tajam, melesat menyesaki peradaban
begitu mudah mengubah dingin menjadi panas,
merekayasa kezaliman menjadi kebaikan,
menyulap kebohongan menjadi kebenaran,
dan seperti yang lain

di saat lautan manusia berselimut kata
bumi menjadi saksi atas ketidakhadirnya ruh
di setiap untai kata
kata terus mengalir biarpun tanpa jiwa
puisi-puisi terus saja lahir biarpun tanpa langkah nyata

aku pun dengan sisa-sisa imanku
mencoba membaca firman demi firman-Nya
“...penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu
tidakkah kau lihat,
mereka menenggelamkan diri
dalam sembarang lembah khayalan dan kata
dan mereka suka mengajarkan yang tak mereka kerjakan
kecuali mereka yang beriman, beramal baik,
banyak mengingat dan menyebut asma Allah,
dan melakukan pembelaan ketika dizalimi...”
begitulah, betapa sejuk kalam-Nya
mengalir, menyirami jiwa-jiwa yang kering
membangunkanku dari lelapnya puisi dan kata
menyembuhkan alpaku,
memanggil diriku yang telah lama hilang

di balik puisi dan kata aku terdiam
dengan lirih hatiku membisik
“Ilahi, maafkan puisi-puisiku
selamatkanlah aku dari lautan kata-kata
jagalah kata-kataku,
selamatkanlah puisi-puisiku.”

Malang, 2018.
Mukhammad Fahmi.