Kiai Sholihin






Pagi sekali waktu itu. Pagi yang tenang. Aku melihat Kiai Sholihin akan melakukan ziarah ke makam Mbah Wahab Hasbullah, seperti yang beliau lakukan setiap kali berkunjung ke tempat ini, tempat yang senantiasa membuat beliau bisa merasa pulang, tempat yang senantiasa menjanjikan kedamaian di setiap sudut kehidupannya. Tanpa menunggu perintah, aku segera mengambil motor untuk mengantar beliau. Namun baru sebentar saja, aku celingukan, kulihat di sana-sini, beliau sudah tidak ada, beliau sudah tak nampak. Kukendarai motorku ke arah makam. Sesampainya di sana kulihat, ternyata beliau sudah khusyuk berzikir di depan makam. Kutunggu saja beliau di depan musholla.

Setelah usai ziarah, Kiai Sholihin mendekatiku yang tampak bengong  di depan musholla.

"Owalah, Le, ikut aku kontrol yuk...!" ajak Kiai Sholihin.

"Nggih, Kiai.." aku menyalami tangan Kiai Sholihin, kemudian mengantar, dan mengikuti petunjuk yang ditunjukkan beliau.

Kami mengendarai motor di antara dingin, hijau sawah, dan kilau mentari pagi. Tidak begitu jauh, kami kemudian berhenti di warung yang berada di samping persawahan. Suasana sangat damai sekali. Beliau memesan dua nasi jagung dengan lauk ikan asin dan dua teh hangat.

"Ayo, Le, sarapan dulu.." perintah Kiai. Kami pun sarapan pagi.

Seusai sarapan, di antara udara pagi yang sejuk, seperti biasanya, beliau selalu bercerita banyak hal tentang kehidupan dan hari ini. Kiai Sholihin berkata kepadaku, "manusia banyak melupakan nikmat yang sebetulnya paling dekat dengan diri manusia itu sendiri, di antaranya yaitu: nikmat menjadi manusia, nikmat menjadi umat Nabi Muhammad, nikmat menjadi orang Indonesia, dan nikmat menjadi santri al-Wahabiyah 2." Saya kaget mendengar kalimat beliau yang terakhir itu.

Setelah mengambil jeda, beliau melanjutkan, "Le, santri al-Wahabiyah 2 itu berbeda dengan santri-santri yang lain. Mereka punya karakter dan kekhasan sendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh santri-santri yang lain. Mereka itu baik-baik orangnya karena dibimbing oleh seseorang yang baik pula. Ada seseorang yang hidup dari kebenaran dan kebaikan yang dengan tabah dan sabar merawat dan mendidik santri-santri al-Wahabiyah 2 yang unik itu untuk menjadi orang yang baik, tentu dengan cara dan metode yang unik dan khas pula. Warna matanya senantiasa menyerbukkan ketulusan kebenaran yang diperjuangkannya. Setiap orang selalu dibuat bergetar dengan kalimat-kalimatnya. Selalu. Beliau senantiasa menggunakan kalimat-kalimat bersayap yang menenangkan. Sekalipun tak banyak orang yang paham dengan jalan pikirannya. Betapa orang sebaik itu; Allah tak akan pernah melupakan kalimat-kalimat dan kebaikan-kebaikannya.." begitu dawuh Kiai Sholihin.

"Nggeh, leres, Kiai.." aku hanya bisa manggut-manggut mendengar dan berusaha memahami semua dawuh beliau.

"Ayuk, kalau sudah kita pulang, sebelum nanti banyak siswa-siswi sekolah. Sekarang sekolah MAN 3 Jombang itu kan masuknya jam 6.30 WIB pagi. Padahal kegiatan mengaji di pondok baru selesai pukul 6 pagi, ada juga yang pukul 6 lebih malahan.." Kiai Sholihin kemudian berdiri dan membayari makanan kami.

Begitu akan melewati sekolah MAN 3 Jombang yang dahulu namanya adalah MAN Tambakberas itu, kami melihat banyak siswa-siswi yang telat dan berjejer di depan gerbang yang sudah ditutup karena waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 lebih, waktu Indonesia bagian barat. Aku hanya tersenyum melihat semua ini. Semua yang datang dan pergi. Alangkah indahnya kehidupan. Alangkah indahnya kerinduan itu.. ;)

Tambakberas, 14.07.18.