Serangkaian “Tiga” yang Tersaji dalam Kopdar Koma #02

Serangkaian “Tiga” yang Tersaji di Kopdar Koma #02

Sabtu, 29 Juni 2019.

Kopdar ke dua Koma kali ini agak berbeda dengan Kopdar sebelumnya. Kopdar Koma ke dua ini sesungguhnya dan juga tanpa disadari (tentunya) terdiri dari rangkaian yang selalu berjumlah tiga. Sebelumnya tidak sampai terpikirkan, sampai salah satu di antara kami bercerita.

“Ada yang sadar tidak, bahwa karena logo Koma itu berbentuk segi tiga, yang dimanifestasikan sebagai iman, islam dan ihsan, maka saat ini, kita sedang diperlihatkan serangkaian kegiatan yang berjumlah tiga.”

Saya yang pada waktu itu tidak mengerti apa-apa maksudnya, berpikir agak lama.

“Maksudnya, Bang?”

“Coba sampean rasakan, tadi waktu acara Kopdar Koma di warung Lesehan Brawijaya kan yang hadir cuma tiga orang, kulo, sampean, sama Bang Ali.”

Saya mulai memahami dan mantuk-mantuk. Kebetulan memang Kopdar yang diadakan di warung Lesehan Brawijaya dihadiri oleh hanya tiga orang. Kang Jajad ternyata ketiduran sampai sore. Ninik tidak bisa hadir karena Suci juga tidak bisa hadir. Para santri di pondok juga pada belum balik. Sementara ketua umum, Hilman Muttaqin MA tidak bisa hadir juga karena persiapan akan berangkat ke Sulawesi. Jadi akhirnya hanya tiga orang.

Kemudian malamnya, ketika sesi kedua, dihadiri oleh saya, Kang Jajad, sama Bang Shomad. Juga tiga orang. Karena kami mengobrol di warung yang ada wifi-nya, maka percakapan kami menjadi kurang begitu hangat. Juga karena kami lupa (maklum manusia, hehe) tidak melakukan istiqomah kami sebagai penggiat Komunitas Koma yang telah ditabur sedemikian lama, yaitu membuka acara, tentu dengan bacaan basmalah dan alfatihah. Astaghfirullah.

Dan sesi acara Kopdar yang ketiga adalah mendaki gunung mButak. Juga dilakukan oleh tiga orang, yaitu saya, Bang Shomad, dan Nur Rokhim (adik BS).

Jadi begitulah, serangkaian “Tiga” yang tersaji di Kopdar Koma #02 ini begitu membawa kita kepada permenungan, agar jangan sampai lepas dari tiga yang utama. Aamiin.

Kopdar sesi pertama.


Kopdar sesi ke dua.

Berdoa dan sowan ke Mbah Wahab Sebelum Berangkat ke Gunung mButak.

Dini hari, Ahad, 30 Juni 2019.

Suatu pagi, lelaki itu mendapati dirinya menangis saat melakukan kunjungan ke maqbarah. Ia duduk sendiri di lantai yang dingin dengan wajah ia tundukkan. Saat itu, semua lantai sedang kosong dari para peziarah.



Makam Alm. KH. Abd Wahab Chasbullah (Pendiri NU)
Seekor kucing putih berusia empat tahun sedang berjaga di sana. Kucing itu diam saja melihat lelaki itu yang datang dengan tatapan menunduk. Ia kemudian ikut duduk di samping lelaki itu, di lantai yang dingin. Seseorang yang telah merawatnya berpesan padanya, agar tidak membiarkan lelaki itu menangis.

Lelaki itu sudah sedikit reda. Kini ia bertanya kepada dirinya sendiri.

Seperti apa hidup itu bagimu? Serumit itukah? Atau sesederhana kamu bisa memahaminya?

Lelaki itu sebenarnya tipikal orang yang pikirannya cukup rumit. Maka dari itu, ia suka belajar dan memahami orang-orang yang pikirannya sederhana. Menurutnya, pemahaman seseorang yang sederhana terbentuk dari cara ia memahami dirinya sendiri.

Ia hanya tidak menyukai gemerlap dan kebisingan; saat warna-warna dan kekosongan terlihat seperti bumerang waktu. Ia suka menenggelamkan dirinya pada buku-buku tua, atau pada ingatan usia, seperti yang dilakukannya saat ini, yang kerap membawanya pada dunia yang tak bersuara. Kamu tahu, di sanalah ia bisa mendengar banyak suara-suara yang tersurat untuknya.

Orang-orang selalu bertanya pada lelaki itu, sebuah prinsip dan keyakinan akan melahirkan apa? Barangkali tidak melahirkan apapun, atau mungkin akan membuat ia semakin banyak kehilangan. Kehilangan keinginan demi keinginan. Tapi ia tahu betul, itu pilihannya sejak awal. Tanpa ia mengerti mengapa ia memilih jalan yang sulit di antara jalan-jalan yang membuatnya lebih merasa nyaman untuk berada di sana. Tapi ia selalu yakin dengan prinsip itu. Kehilangan demi kehilangan itu akan tergantikan oleh sesuatu yang membahagiakannya kelak.

Dalam setiap pertemuannya dengan orang-orang, ia tahu Tuhan sedang memberikannya kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Selagi ruh masih bersemayam di kandung badan, belum terlambat untuk senantiasa bersyukur dan melakukan kebaikan-kebaikan. Waktu tidak memberinya izin untuk menyia-nyiakannya. Ia selalu ragu masih ada hari esok. Masih meragukan malam akan menepati janjinya, kalau besok pasti pagi. Karena bisa saja besok adalah pekat.

Pada suatu kelak, lelaki itu akan tersenyum mengetahui balasan dari kesabaran dan kebaikan-kebaikan. Ia menjadi tahu mengapa orang-orang bisa hidup dengan prinsip dan keyakinan. Hanya saja, setiap orang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meyakini segala sesuatunya. Perjalanan ini membuat pikirannya menjadi lebih sederhana untuk memahami, seperti apa hidup itu baginya. Perjalanan ini membuatnya lebih dekat dengan dirinya. ~

Note: Beberapa kalimat, saya terinspirasi dari pemikiran Kak Iha ;))


Reportase Pendakian Gunung mButak.

Malam hari, Ahad, 30 Juni 2019.

Tanjakan PHP.

Jam sepuluh malam, kami baru memulai perjalanan dari Pos pendaftaran. Sekitar lima belas menit kemudian, langkah kaki kami sampai di simpang jalan, dari papan penanda yang terpasang, terlihat kiri arah gunung Panderman, kanan arah gunung mButak. Kami pun bergegas ke kanan.

Pukul 23.30 WIB kami sampai di Pos 1 jalur pendakian yang ditandai dengan gemericik air yang mengalir deras. Setelah sejenak istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 2, yang ternyata medannya cukup berat, berupa tanjakan pasir, yang seperti tak kenal kata akhir.

Di tengah perjalanan, kami bertemu rombongan pendaki yang sedang turun. Setelah saling sapa, salah seorang di antara mereka berkata, “Kok lewat sini mas? Ini namanya tanjakan PHP, terlalu berat kalau untuk rute naik.”

Yang lain kemudian menambahkan, “Idealnya mas ketika di pos 1 tadi mengambil jalur kiri mas, lewat jalur pipa, untuk perjalanan naik, medannya lebih bersahabat.”

Karena sudah lebih dari satu jam kami berjalan dari pos 1, maka kami pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan via tanjakan PHP.

Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, kami sampai di pos 2, dalam kondisi yang sudah sangat lelah.

Kami pun mendirikan tenda, masak, dan lanjut istirahat tidur, berharap agar esok pagi, kami sudah punya cukup energi untuk melanjutkan perjalanan mendaki.













Tanjakan PHP
Menuju Puncak.

Senin, 1 Juli 2019.

Hari ke dua pendakian, setelah salat Subuh, kami segera berkemas, menyiapkan segala sesuatunya untuk melanjutkan pendakian.

Pukul 06.30 WIB kami mulai berjalan. Perjalanan menuju ke pos 3. Perjalanan cukup lancar. Selain medan yang tidak terlalu menanjak, dalam perjalanan kami juga berada di bawah naungan pepohonan yang berdaun lebar.

Sekitar pukul 08.00 WIB kami sudah sampai di pos 3. Setelah cukup istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan ke pos 4 (Sabana).

Perjalanan menuju pos 4, lumayan cukup berat, selain medan yang semakin menanjak, panas matahari turut menjadi tantangan tersendiri, sehingga kami harus lebih sering berhenti untuk sekadar melepas lelah dan dahaga.

Saat matahari hampir tepat berada di atas kepala, kami sampai d pos 4 (Sabana). Selelah beristirahat cukup lama, sekitar jam 13.30 WIB kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Dan alhamdulillah setelah sekitar satu jam berjalan, kami pun sampai di puncak.

Di puncak, lelah seakan tak lagi terasa, berganti takjub dengan pemandangan indah yang terhampar di depan mata. AlhamduliIIah.

—Bang Shomad, dalam Ahad Koma Berkarya, 15 Juli 2019.




































Puncak Gunnung mButhak

Pos 4, Sabana

Catatan: Hikmah dari Pendakian.

Apabila kita melakukan pendakian hanya mendapatkan rasa letih, maka kita sesungguhnya mengalami kerugian yang besar. Mendaki sebenarnya adalah sarana, agar kita bisa lebih mengenal diri sendiri. Orang yang mendaki ke gunung berpotensi berada dalam suasana capek, haus, lapar, dingin, ngantuk, dan hal-hal lain yang berada di luar kendali. Dalam keadaan demikian, secara psikologis orang akan cenderung bertindak dalam kontrol alam bawah sadar, sehingga kita akan dapat melihat watak asli seseorang. Man arofa nafsahu, faqod arofa robbahu. ~

—Bang Shomad.