Suara Hati

Suara Hati

Suara Hati

Coba dengar. Selama ini engkau bercerita uring-uringan di hadapan cermin. Tentang perasaanmu yang kalang kabut setiap kali ingin bertemu. Tentang rindu-rindumu yang tertahan. Tentang keinginanmu yang tak bisa tertuang. Sebab, kamu perempuan. Tidak dan jangan memulai duluan, katamu berulangkali.

Engkau berharap ia punya perasaan yang sama denganmu, sehingga perasaanmu tidak perlu kamu bunuh satu per satu. Engkau berandai bisa menjadi pendamping hidup yang dapat menguatkannya. Bersandar dan bergantung kepadanya. Melangkah dan menjalani kehidupan bersamanya dalam ibadah, membangun mahligai cinta keluarga yang senantiasa mesra.

Suaramu kini seperti kesiur angin dari kejauhan sana. Yang melayang-layang menempuh setiap jalanan. Bersenggolan dengan dedaunan pohon. Melewati celah-celah jendela rumah-rumah. Menembus segala semua. Angin sampaikan suara hatimu ke semesta. Hingga akhirnya sampai pula suara hatimu kepadanya. Membisikan dan mengatakan sesuatu dengan lembut dan hati-hati ke dekat telinganya, bahwa kamu saat ini sedang menunggunya di sana.

Betapa pada akhirnya engkau memberanikan diri. Menegurnya yang seorang diri. Bertanya sedang apa, apa kabar, dan lain sebagainya. Bahkan pada pernyataan yang lebih jauh dan dalam lagi perihal segala semua. Ia mungkin merasa terusik. Tapi ia tidak masalah. Sebab kamu yang mengusik.

Coba dengar. Harapanmu sungguh setinggi langit. Engkau tidak takut jatuh? Padahal di atas awan sana sama sekali tidak ada pegangan.

Coba dengar. Bila rasamu itu begitu jauh. Bagaimana bila engkau membuatnya jatuh cinta? Dan ia memiliki perasaan yang sama seperti yang engkau miliki kepadanya.

Ia sebelumnya tak habis pikir, kenapa ada orang yang mengaguminya. Apa istimewanya coba? Ia hanya seorang lelaki biasa. Ia tidak punya apa-apa yang mesti dibanggakan. Lalu apa yang membuatmu jatuh cinta padanya? Apa yang sesungguhnya kau harapkan dari seseorang lelaki yang sangat biasa seperti itu? Memang bahaya berangan-angan bagaimana perihal bersamamu kelak, tapi ia seperti kecanduan. Menikmati pikirannya yang penuh bayang-bayang.

Dalam ingatan namamu, juga kerinduan pada amanah itu. Ia mencoba masuk dalam bingkai alam pikiranmu. Merenungi titik-titik keresahan dalam dirimu dan berharap sebelumnya niatnya tak lebur. Awalnya ia mengira ini hanya usikan dari penglihatan pada kata-katamu, pada pernyataanmu yang sedemikian berani menyatakan padanya. Ia renungi semua kata-katamu. Suara puisimu ternyata terekam dan mengisi misel-misel terkecil di otaknya. Memberinya suatu pengalaman batin yang mungkin luput dari jangkauan ilmu apapun.

Bagaimana? Kini engkau telah membuatnya jatuh cinta lewat kata-katamu yang puitis. Lewat suara hatimu yang disampaikan angin padanya, juga degup rindumu yang menggemuruhkan semesta. Lewat keteguhan iman dan taqwamu. Tidak banyak orang yang punya keteguhan iman sepertimu. Dan ia saat ini sedang jatuh cinta padamu, pada keteguhan imanmu lebih tepatnya. Sedang engkau diam saja, membisu. Tidak percaya.

Orang-orang seperti ia perlu di selamatkan. Dibangunkan dari tidurnya logika. Disadarkan bahwa kehidupan nyata menanti pembuktian kata-kata. Sebab untuk membawamu ke rumahnya membutuhkan banyak pembuktian dan jalan yang panjang. Bahwa ia tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati. Dan ia akan menunjukkan bahwa kata-katanya tidak berhenti sebagai angan-angan. Engkau suka diperjuangkan, bukan?

Semoga doa-doa dan usaha kita dapat mendekatkan diri kita kepada Allah, yang memiliki segala kuasa. Dan juga mendekatkan kepada cita-cita kita. ;) Aamiin..