Menunggu di Bawah Rembulan

Menunggu di Bawah Rembulan

Aku menunggu engkau di sini. Menunggu seperti waktu yang terus berjalan tak tentu tujuan. Sementara, engkau yang kutunggu tak juga kunjung datang menemuiku. Alangkah membosankan penantian ini. Ataukah engkau sengaja ingin menyiksaku dengan cara seperti ini?

Sahabat, lihat, matahari hampir terbenam. Hari sebentar lagi malam. Tak ada lagi kicau burung di dahan. Tak ada lagi keciap ayam di pelataran. Anak-anak kecil yang bermain di lapangan pun sudah bubaran. Mereka  pulang untuk mandi. Setelah itu pergi ke musala belajar mengaji. Atau, siapa tahu langsung nonton televisi. Mungkin ada juga yang mengerjakan pe-er setelah makan sore bersama papa mamanya. Dan aku?

Aku masih menunggu engkau di sini. Menunggu seperti waktu yang terus berjalan tak tentu tujuan. Sementara, engkau yang kutunggu tak juga datang menemuiku. Alangkah membosankan penantian ini. Ataukah engkau memang sengaja ingin menyiksaku dengan cara seperti ini?

Sekarang hari telah malam. Matahari sepenuhnya tenggelam. Listrik mulai menyala remang-remang. Azan Magrib baru saja berlalu. Pedagang sore pun muncul satu per satu. Ada tukang bakso, tukang soto, tukang sate, dan kue putu. Ah, andaikan engkau saat ini ada di sampingku, betapa ingin aku memesan dua mangkuk bakso. Satu untukmu, satu untukku. Bukankah engkau suka makan bakso? Sayang, engkau belum juga datang. Ataukah engkau saat ini sedang dalam perjalanan?

Baiklah, aku akan tetap menunggumu di sini. Menunggu hingga habis waktu. Aku yakin engkau sebentar lagi datang, sebab aku tahu engkau bukan orang plinplan. Itulah sebabnya, aku tetap menunggumu di sini. Menunggu hingga segala janji tertepati. Bukankah janji adalah utang yang mesti dibayar?

Sengaja aku memilih taman ini untuk menunggumu, sebab di sini pertama kali kita bertemu. Lagi pula, bukankah engkau sendiri yang berjanji dan memintaku agar aku menunggumu di tempat ini? Betapa taman ini bagiku memberi kesan yang mendalam walaupun sebelumnya tidak demikian. Aku sangat terkesan setiap kali duduk di sini, sebab setidaknya kau pernah hadir di taman ini dan sempat pula mengetuk pintu hatiku. Pintuku tak terbuka untuk sebarang orang. Dan, engkau adalah tamu yang berhasil membuka pintuku.

Kau tahu bagaimana indahnya bulan purnama di langit itu? Aku telah menyaksikannya dengan sengaja sebanyak empat belas kali. Dan sebentar lagi, purnama akan menampakkan wajahnya kepadaku untuk yang kelima belas kalinya. Namun, kau baru hadir satu kali di hadapanku. Seandainya engkau rembulan, aku tak akan menganggapmu seindah dia. Kau lebih istimewa dari bulan purnama sekalipun. Betapa kehadiranmu yang sekali itu sempat menggetarkan seluruh sendi-sendi tubuhku. Sementara untuk mengingat wajahmu, aku sudah lupa dengan purnama yang keempat belas kali itu.

Konon, di bawah sinar rembulan itulah para muda-mudi berjanji. Berjanji untuk sehidup semati, mengukir hari esok dengan langkah pasti. Konon, katamu pula, di taman inilah mereka selalu bertemu untuk bersumpah setia saling mencinta untuk selamanya hingga hari tua. Dan kau, mengapa tak juga datang? Bukankah hari ini kita telah berjanji untuk bertemu di sini menikmati sinar rembulan sampai pagi?

Lihat, satu per satu pasangan muda-mudi itu datang. Mereka masuk ke taman dengan langkah riang. Duduk, bercakap-cakap sebentar, lalu berdiri berhadap-hadapan. Ditatapnya rembulan. Mereka saling tersenyum, kemudian terucaplah janji. Janji sehidup semati untuk mengukir hari esok dengan langkah pasti. Setelah itu, mereka  pergi meninggalkan taman ini. Tak ada kecupan, tak ada rangkulan, tak ada bunga-bunga bertebaran. Itu pantang dilakukan di sini. Sebab taman ini hanya digunakan untuk berjanji. Setelah itu, mereka boleh pergi.

Ah, seandainya engkau datang, mungkin kita sudah mengadakan janji di bawah sinar rembulan. Ya, berjanji untuk sehidup semati seperti mereka yang  sedang dilanda kasmaran. Tapi, mengapa engkau belum juga datang?

Sahabat, lihat, malam semakin larut. Rembulan telah menggelincir ke arah barat. Sinarnya tak lagi terang. Mendung hitam mendadak datang dari arah timur. Mungkin sebentar lagi hujan deras akan segera turun.

Taman ini sekarang sepi. Tak ada lagi muda-mudi yang datang untuk mengikat janji. Para pedagang malam pun sudah pulang. Dagangan mereka telah habis. Hanya tinggal satu-dua tukang sekoteng yang lewat. Pada cuaca dingin seperti ini, mungkin enak juga minum sekoteng yang hangat. Tapi sayang, engkau belum juga datang. Seandainya engkau datang, tentu aku akan memesan dua gelas sekoteng; satu untukmu, satu untukku. Namun, mengapa engkau belum juga datang?

Tak apalah. Aku akan tetap menunggumu di sini. Menunggu seperti waktu yang terus berjalan tak tentu tujuan. Memang membosankan penantian ini. Ataukah engkau memang sengaja ingin menyiksaku dengan cara seperti ini? Aku percaya, engkau tak sekejam itu.

Ah, lihat. Sekarang hujan pun turun. Langit sepenuhnya gelap. Cahaya rembulan terhalang awan hitam. Bintang-bintang pun menyembunyikan wajahnya entah di mana. Taman ini tak seindah tadi lagi. Suasana semakin sepi. Tapi, aku tak mau dikalahkan hujan. Biarlah aku tetap menunggumu di sini meskipun bajuku basah kuyup. Dingin memang, tapi alangkah nikmat derita yang lahir dari sebuah penantian.    Bukankah cinta itu penuh pengorbanan? Bukankah cinta butuh kesabaran? Penantian, kata orang, adalah lambang dari kesetiaan. Itulah sebabnya, dalam keadaan seperti ini aku tetap percaya bahwa engkau sebentar lagi datang. Ya, datang menemuiku untuk mengobati rasa rinduku yang telah sedemikian membukit. Bila engkau datang. maka akan kau temui diriku sedang menggigil kedinginan.

"Mengapa tidak berteduh?" Mungkin begitu engkau langsung bertanya.

"Sengaja. Supaya engkau percaya bahwa aku benar-benar menunggumu di sini," jawabku.

“Tapi, caranya tidak seperti ini!” katamu lagi.

“Mengapa?”

“Ini kebodohan namanya!”

“Orang yang sedang jatuh cinta, kadang tidak tahu apakah yang diperbuatnya itu kebodohan atau bukan,” aku menjelaskan.

“Tapi, engkau terlalu mengada-ada!”

“Mengada-ada?”

"Mana ada orang mau menunggu berhujan-hujan seperti ini? Di tengah malam pula!"

“Tapi, bukankah engkau sendiri yang berjanji dan memintaku agar aku menunggumu di sini?”

Engkau terdiam dan menatapku tajam. Wajahmu merona dalam kegelapan, lalu engkau mengemukakan berbagai alasan apa kiranya yang menyebabkan engkau terlambat datang. Meskipun engkau berbohong, aku tetap saja memercayaimu. Ya, memercayaimu, sebagaimana aku percaya bahwa hujan sebentar lagi berhenti. Mendung kan tertiup angin dan rembulan kembali bersinar terang. Itulah sebabnya, aku tetap menunggumu di sini. Menunggu seperti waktu yang terus berjalan tak tentu tujuan. Memang membosankan penantian ini. Tapi aku yakin, sebentar lagi engkau datang. ~

Malang, Maret 2018.
Mukhammad Fahmi.