Perjalanan Rindu yang Indah

Perjalanan Rindu yang Indah
Turun dari taksi, Putri ragu-ragu memasuki gang yang ada di pinggir jalan dekat pasar itu. Hari sudah sore. Langit hitam. Sebentar lagi pasti turun hujan. Putri mencoba mengingat-ingat. Ia yakin tidak salah turun. Warung yang ada di seberang jalan itu adalah ancar-ancarnya. Dan rumah Dimas, sahabat yang dicari-carinya itu, pasti ada di dalam gang, di depan warung itu.

Putri heran, gang itu sudah berubah. Di depannya berdiri gapura megah. Rumah-rumah yang berderet di dalamnya juga banyak yang berubah. Dulu, gang itu selalu becek bila turun hujan. Sekarang beraspal mulus. Dulu penghuninya miskin-miskin, kini rata-rata rumah mereka bertembok rapi, bahkan beberapa di antaranya bertingkat. Di gang itulah Dimas, sahabat kuliah yang pernah menjadi kekasihnya dulu itu, tinggal. Di situ ia dulu pernah menumpahkan kegelisahan hatinya saat hidupnya dilanda kemelut antara memilih dan dipilih.

Gang Kauman, demikian nama jalan setapak yang hanya bisa dilewati satu mobil itu, tiba-tiba membersitkan kenangan aneh dalam dirinya. Kenangan yang membuat hatinya tiba-tiba begitu sepi seperti di ujung kutub. Mengapa? Entahlah, ia sendiri tak mengerti. Gang itu ia rasakan bagai lorong panjang yang tak bertepi. Setidaknya, di gang itulah dulu ia pernah berjalan bersama dengan Dimas untuk pertama kalinya di bawah cahaya bulan purnama. Sebuah kenangan indah yang takkan terlupakan. Dan sekarang entah mengapa pula, untuk memasuki gang itu kembali, Putri menjadi ragu-ragu. Mungkinkah Dimas masih mengenalinya.

Untuk meyakinkan perasaannya, Putri menghampiri tukang rokok di warung itu. Menanyakan alamat rumah Dimas.

“Dimas? Oh, pengarang yang menjadi wartawan itu, ya? Itu rumahnya, yang bertingkat dan bercat putih!” tunjuk tukang rokok itu ke arah rumah bertingkat.

Mata putri mengekor, mengikuti arah telunjuk tukang rokok. Ia mengangguk-angguk. Ah, rumahnya sudah bertingkat rupanya, batin Putri. Betapa cepat perubahan ini terjadi. Secepat perjalanan waktu yang kadang tak bisa diajak kompromi. Setelah mengucapkan terima kasih, Putri meninggalkan tukang rokok itu.

Sudah berapa tahun ia tak ke sini? Sepuluh tahun, sebelas tahun, dua belas… atau ah, mungkin lebih dari itu. Putri tak tahu persis. Ia tak sempat lagi menghitung-hitung hari, apalagi mencatat tanggal perjumpaan terakhir dengan sahabatnya itu sejak ia memutuskan menikah dengan Zainal, seorang pengusaha kaya yang berhasil merebut hatinya. Lima tahun sudah ia hidup berumah tangga dengan pengusaha itu, sebelum akhirnya mahligai perkawinan mereka hancur berantakan begitu diketahuinya Zainal selingkuh. Diam-diam, ternyata ia mempunyai istri simpanan. Pengkhianatan ini teramat melukai hati Putri. Sulit untuk memaafkannya. Tapi, Putri sudah terlanjur dikaruniai dua anak. Ia mencoba hidup mandiri. Kesibukan kerja telah membuatnya terbenam dalam kesuntukan sehingga ia tak memikirkan lagi soal cinta.

Dan Dimas, sudah berapa anaknya sekarang? Apakah ia jadi menikah dengan artis sinetron yang pernah diwawancarainya itu? Ah, rasa rindu tiba-tiba berkecamuk  dalam dada Putri. Dalam keadaan suntuk seperti ini, entah mengapa tiba-tiba ia teringat Dimas. Teringat seperti dulu, ketika setiap kali mengalami kebuntuan, ia selalu ingin cepat-cepat menemui Dimas untuk menumpahkan segala beban pikirannya. Betapa ia ingin berbincang-bincang seperti dulu lagi dengan mantan kekasihnya itu saat mereka masih sama-sama menjadi mahasiswa di kampus tercinta yang terletak di pinggir kota itu. Mungkinkah Dimas masih mengenalnya? Mungkinkah Dimas masih mau menerimanya sekedar untuk menyambung tali persahabatan? Lagi-lagi, Putri mengalami keraguan ketika ia mendekati rumah yang cukup besar itu.

Rumah itu terlihat sunyi dari luar, seperti tak berpenghuni. Ataukah memang sudah ditinggalkan penghuninya? Putri segera menekan bel yang berada di pojok pagar, begitu ia berdiri di depannya. Sebentar kemudian, seorang lelaki tua keluar dari dalam rumah menyambut kedatangannya.

“Kaukah yang bernama Putri Senja?” tanya lelaki tua itu tiba-tiba setelah Putri menerangkan maksud kedatangannya.

Pertanyaan yang mendadak itu, membuatnya terheran-heran. “Betul, Pak. Saya Putri Senja. Sahabat Dimas waktu kuliah,” akhirnya Putri menerangkan.

“Sayang, rumah ini sudah dijual, Nak. Baru tiga bulan lalu.”

“Dijual…?” Putri terhenyak. “lalu… Dimas pindah ke mana, Pak?

“Ia tidak memberi alamat yang baru,” jawab lelaki tua itu.

“Ahh…,” Putri mendesah kecewa. “Maaf, Bapak siapa?” tanyanya kemudian, berusaha mengalihkan kekecewaannya.

“Saya penjaga rumah ini. Sejak Dimas menempati rumah ini, saya yang menjadi tukang kebunnya. Ketika rumah ini berganti pemilik, ternyata saya masih dipercaya menjadi tukang kebun di sini.”

“Kalau begitu, tentu Bapak tahu keadaan terakhir Dimas?”

“Belakangan, dia sering sakit-sakitan.”

“Sakit-sakitan?” Putri membelalak.

“Dia terserang paru-paru.”

Putri kembali mendesah. “Lalu, bagaimana dengan anak istrinya?” tanya Putri kemudian.

“Anak Istri…?” ganti lelaki tua itu yang heran. “Yang saya tahu, dia itu masih hidup sendiri, Nak. Membujang,” terang lelaki tua itu.

Putri terhenyak. Ia seperti tak percaya mendengar ucapan lelaki tua itu. Dimas masih hidup sendiri? Membujang? Benarkah demikian? Mengapa? Ada apa dengan Dimas? Ah, sepuluh tahun lebih, mereka berpisah. Putri sudah memiliki dua anak, tapi Dimas masih hidup sendiri. Betapa ini sulit dipercaya. Ya, mengapa? Ada apa dengan Dimas? Mengapa ia masih membujang? Kembali Putri dibuat bertanya-tanya. Namun, pertanyaan itu semakin menumbuhkan taka-teki dalam dirinya tanpa pernah ia ketahui jawabannya. Lalu, dengan perasaan lesu, akhirnya Putri pamit meninggalkan rumah itu.

“Tapi, nanti dulu, Nak!” tiba-tiba lelaki tua itu mencegah.

Putri berhenti sejenak. Tak jadi pergi.

“Apakah benar, engkau yang bernama Putri Senja?”

Putri memandang lelaki tua itu dengan tatapan tajam bercampur heran. Tapi, pandangan itu cukup sudah sebagai tanda jawaban.

"Tunggu sebentar! Dimas meninggalkan sepucuk surat untukmu." Dengan cepat, lelaki tua itu masuk, mengambil sepucuk surat. Sebentar kemudian, ia muncul kembali dan menyerahkan surat itu  kepada Putri. “Ia Cuma berpesan, bila ada seorang wanita datang kemari bernama Putri Senja, saya disuruh menyerahkan surat ini kepadanya.”

Entah mengapa, tangan Putri gemetar ketika menerima surat itu. Setelah itu, ia cepat-cepat meninggalkan rumah itu. Sesegera, ia memasukkan surat itu ke dalam tasnya. Langit yang sejak tadi mendung, tiba-tiba menurunkan hujan dengan lebatnya. Putri berlari-lari kecil menyetop taksi. Bajunya basah kuyup.

***

“Putri Senja. Saat membaca suratku ini, kau pasti kecewa karena tak berjumpa denganku. Aku memang sudah pindah. Tapi, aku yakin suatu saat kau akan kembali. Itulah sebabnya kutinggalkan sepucuk surat ini untukmu. Hari-hari belakangan ini, aku merasa pertemuan kita sudah dekat. Musim kemarau yang panjang sebentar lagi terhapus oleh datangnya musim penghujan, dan bunga-bunga akan kembali bermekaran…!”

Demikian bunyi surat Dimas ketika Putri membacanya di rumah. Hanya satu paragraf, tak lebih. Dan Dimas tidak meninggalkan alamat rumahnya yang baru. Putri dibuat penasaran. Apalagi kalimat terakhir yang ditulis Dimas begitu puitis dan seperti mengandung misteri. Ada apa dengan Dimas? Ke mana ia pindah? Dan ke mana pula aku harus mencari sahabat karib sekaligus mantan kekasih pertamaku itu?

Tiba-tiba, Putri teringat bahwa Dimas bekerja menjadi wartawan di sebuah majalah terkenal. Tentu ia ada di sana. Keesokan harinya, Putri mencoba mendatangi kantor majalah itu.

“Apakah Anda yang bernama Putri Senja?” tanya sekretaris majalah itu ketika Putri menanyakan Dimas.

“Betul. Saya dulu sahabat karibnya waktu kuliah. Sudah sepuluh tahun lebih, kami berpisah,” jawab Putri.

“Sayang, dia sudah keluar dari majalah ini, tiga bulan yang lalu,” terang sekretaris itu.

Putri mendesah kecewa. “Dia pindah ke mana, mbak?”

“Itulah, dia tidak memberi tahu pindah ke mana dan juga tidak meninggalkan alamat yang bisa dihubungi. Dia baru saja sembuh dari sakit, setelah berbulan-bulan terbaring di rumahnya. Setelah itu, dia memutuskan berhenti dari majalah ini. Dia hanya berpesan pada saya, bila ada seorang wanita datang kemari bernama Putri Senja, maka saya disuruh menyerahkan titipannya.” Sekretaris itu membuka laci mejanya, mengambil sesuatu. “Ia meninggalkan surat ini untuk Anda,” katanya kemudian sambil menyerahkan sepucuk surat pada Putri.
Putri lagi-lagi terhenyak. Tangannya gemetar ketika menerima surat itu. Setelah mengucapkan terima kasih, ia buru-buru pulang.

***

“Putri Senja, saat membaca suratku ini, pasti kau kecewa karena tak berjumpa denganku. Ku yakin bahwa suatu saat, kau pasti datang ke kantorku untuk menemuiku. Itulah sebabnya, kutinggalkan sepucuk surat ini untukmu. Aku memang sudah pindah. Lima belas tahun aku bekerja menjadi wartawan, kurasa pengabdianku cukup. Setelah lama kiranya menulis segala peradaban yang terbentang di alam semesta raya ini, sekarang, aku ingin hidup dengan tenang. Giliranku kini menuliskan kisah hidupku sendiri. Aku akan menulis sebuah kisah perjalanan rindu yang indah…”

Demikian surat yang ditulis Dimas. Lagi-lagi, Cuma satu paragraf, tak lebih. Dan lagi-lagi, Dimas tidak meninggalkan alamat pada suratnya itu juga nomor telepon atau HP yang bisa dihubungi. Dimas seolah sengaja menyembunyikan teka-teki yang membuat Putri bertambah penasaran. Apa maksud dia meninggalkan surat-surat itu? Lalu, ke mana aku harus mencari mantan kekasihku yang belakangan ini tiba-tiba kembali mengusik alam pikiranku?

Otak Putri berpikir keras. Dikenangnya kembali kisah perjalanan dirinya dengan Dimas selama ini, sejak mereka bertemu di kampus, hingga akhirnya Putri memutuskan menikah dengan Zainal. Dan sejak Putri menikah, Dimas memang tidak pernah lagi menemui Putri, begitu pula sebaliknya. Perpisahan mereka meninggalkan sebuah teka-teki panjang yang tak pernah terselesaikan. Benarkah selama ini mereka saling mencintai?

Ah, Dimas. Lelaki tinggi kurus berkulit sawo matang itu memang sering sakit-sakitan. Batuk kronisnya selalu kambuh. Tapi, Putri tetap yakin, bahwa Dimas memiliki semangat hidup dan daya juang yang tinggi, inilah yang membuat Putri mengaguminya. Dimas pantang menyerah dalam melawan ganasnya kehidupan kota.

Tiba-tiba, Putri teringat riwayat hidup Dimas yang pernah diceritakan kepadanya. Umur lima tahun, ia ditinggal mati oleh ayahnya. Dimas lebih banyak menghabiskan masa kecilnya bersama Ibu, kakek dan neneknya di desa. Setelah besar, ia pergi ke kota, kuliah dan akhirnya menjadi wartawan. Dari sekian keluarganya, hanya Dimas yang meneruskan hidup di kota. Mungkinkah Dimas sekarang ini pulang ke kampung halamannya? Ya, siapa tahu.

Keesokan harinya, Putri mengambil cuti dari kantor. Ia membeli tiket pesawat terbang menuju kampung halaman Dimas yang terletak di seberang pulau. Dulu, waktu libur kuliah, Putri bersama teman-temannya pernah diajak Dimas ke kampung halamannya itu. Ia diperkenalkan kepada Ibu, kakek, dan neneknya. Kini Putri yakin, Dimas pasti berada di kampung halamannya itu.

Turun dari pesawat, Putri harus naik bus beberapa kali menuju perkampungan Dimas yang terletak di kaki sebuah gunung. Bus menempuh jalan berliku, menembus hutan dan melewati sawah-sawah. Turun dari bus, ia masih harus berjalan kaki lagi untuk mencapai daerah pedalaman. Akhirnya, sore harinya, sampai juga ia. Ah, desa yang dimasukinya itu masih tetap sunyi seperti dulu. Tapi, di kesunyian itulah Putri menemukan kedamaian dan ketenangan. Alangkah jauh bedanya dengan kehidupan kota yang hiruk-pikuk. Putri kadang tak habis pikir, mengapa orang-orang desa yang tinggal di daerah setenang ini banyak yang memilih merantau ke kota yang sudah padat dan gaduh. Apa yang mereka kejar di sana?

“Apakah engkau yang bernama Putri Senja?” Kedatangan Putri disambut oleh wanita tua yang langsung bertanya demikian kepadanya. Ditatapnya wajah tua yang kulitnya mulai keriput itu. Dan Putri mengenalnya, wanita itu adalah ibu Dimas.

“Benar, Bu. Saya Putri Senja, sahabat Dimas waktu kuliah di kota. Sudah sepuluh tahun lebih, kami tak saling jumpa. Kemarin saya ke rumahnya yang berada di dekat pasar Kauman, ternyata rumah itu sudah dijual. Lalu saya cari ke kantornya, tapi katanya ia sudah pindah. Dimas Cuma meninggalkan surat-surat kepada saya, namun dalam suratnya ia tak memberi tahu alamatnya yang baru. Akhirnya saya punya keyakinan, pasti dia kembali ke kampung halamannya. Itulah sebabnya saya datang kemari,” demikian Putri menjawab.

Ibu tua itu tiba-tiba tertunduk. Wajahnya mendadak menyendu. Lalu, dengan suara serak ia berkata, “Ia memang telah kembali ke kampung halamannya, Nak, dan pasti ia akan kembali, sebab di sinilah ia dilahirkan, dan dari sini pula ia mengawali pengembaraannya. Tapi sayang, kedatanganmu sedikit terlambat…”

“Sedikit terlambat?” Putri terperanjat.

“Ya, ia telah kembali berangkat mengembara yang lebih panjang lagi. Baru kemarin pagi ia meninggalkan desa ini…”

“Oh…,” Putri mendesah kecewa. Benar-benar kecewa. Intuisinya memang berjalan dengan baik, tapi ia selalu terlambat. Ya, mengapa ia selalu terlambat? Putri sejenak terdiam dan bungkam. Ah, kalau saja ia berangkat lebih awal, tentu ia dapat bertemu dengan Dimas.

“Jangan bersedih, Nak Putri. Sebelum berangkat, Dimas sempat menulis sepucuk surat untukmu. Ia berpesan kepada Ibu apabila ada seorang wanita datang kemari bernama Putri Senja, maka Ibu disuruh menyerahkan surat itu kepadanya. Sebentar, Ibu ambilkan, ya?!” Ibu tua itu segera masuk. Sebentar kemudian, ia telah kembali menyerahkan sepucuk surat kepada Putri.

Tangan Putri gemetar menerimanya. Setelah itu, Putri buru-buru pamit untuk kembali ke kota.

***

Di atas pesawat Putri membuka surat Dimas.

“Putri Senja, tibalah engkau membaca lagi suratku, dan pasti engkau kecewa karena lagi-lagi tak menjumpaiku. Ku yakin kau pasti datang ke kampung halamanku untuk menemuiku. Itulah sebabnya kutinggalkan sepucuk surat ini untukmu. Sepuluh tahun lebih kita tak bertemu. Setelah engkau menikah, engkau tak pernah menemuiku kembali atau sekedar berkirim kabar. Bukan salahmu. Perputaran kota yang demikian sibuk kadang bisa melupakan segalanya. Mungkin arti persahabatan, kasih sayang, dan ketulusan telah kehilangan makna di kota, tergilas oleh derasnya arus kehidupan. Tapi, aku tidak akan pernah lupa kepada arti persahabatan, ketulusan, kasih sayang, dan cinta. Itulah sebabnya, kutinggalkan sepucuk surat ini untukmu karena ku yakin suatu saat, kau pasti datang ke kampung halamanku. Tapi inilah suratku yang terakhir untukmu, sebab setelah hari ini kau pasti takkan pernah menemuiku lagi. Kini aku telah menjadi pengembara abadi…”

Putri gemetar membaca tulisan itu. Dadanya berdegup kencang. Ia diselimuti berbagai keheranan sekaligus teka-teki oleh bunyi surat itu surat itu. Dimas telah menjadi pengembara abadi? Apa maksudnya? Sementara itu, di kejauhan sana, ibu Dimas terisak dan menitikan air mata begitu melihat keberangkatan Putri yang ingin kembali ke kota. Ibu tua itu sengaja tidak mengatakan kepergian Dimas yang sebenarnya. Hal ini sesuai dengan pesan Dimas sebelum anaknya itu pergi untuk selama-lamanya.


(Untuk cinta yang tidak pernah mati).
Malang, Maret - April, 2018.
Mukhammad Fahmi.